Minggu, 22 Mei 2011

DenShil

Ini cerpen waktu buat tugas sekolah, ga banget bahasanya-_- tapi gapa deh, haha.



(Denish dan Shila)
Oleh : Jelita Permatasari

Jam telah menunjukkan pukul 15.15. “huaaa... TELAT! vin, cepetan! udah telat ni ah” motor Alvin pun melesat dengan sangat cepat, “huuaaa.. ga gini-gini juga kali vin, kamu mau bikin jantung aku copot apa?!” omelku. “iya.. emak bawel!” jawab Alvin santai. Aku pun berlari sekencang-kencangnya menuju kelas. Braaak! “ma.. ma.. maaf, bu telat” kataku dengan nafas terengah-engah. “iya, silahkan duduk di barisan depan” jawab bu ihat tegas. Aku pun berjalan menuju bangku depan. “kamu tadi kemana dulu sih shil, dicariin di sekolah ga ketemu-ketemu?” tanya Citra teman sekelasku yang juga ikut bimbel di Kumon. “tadi aku dibawa si Alvin muter-muter” jawabku. Tiba-tiba seseorang mencolek punggungku, “apaaa?!” tanyaku dengan nada sedikit tinggi. Kulihat seorang lelaki tinggi, berkulit putih, dengan rambut acak-acakkan, dan wajah yaaang..... cute, ‘heeey.. sejak kapan dia masuk kelas ini?’ kataku dalam hati. “kepala kamu ngehalangin papan tulis putri cantik” katanya santai. “heh..” aku pun tersenyum sinis. Pelajaran berlangsung terasa sangat lama, sudah tak terhitung lagi berapa kali aku menguap. Bu Ihat terus menulis di papan tulis, sedangkan anak-anak sibuk dengan urusannya masing-masing. “BENI HARTAKUSUMAH” pekik salah seorang dari belakang. ‘glek.. heeey.. itukan nama ayah aku!’ ucapku dalam hati. Aku pun menoleh ke belakang, ternyata si anak baru itu sedang mengobrak-abrik isi tasku. “KAMU! BALIKIN TAS AKU DODOL” ucapku dengan nada tinggi. “Beni si sapi! Beni si sapi! Beni si sapi!” ucapnya berulang-ulang sambil berlari menjauh dariku, akupun mengejarnya. Jelas.. kelas menjadi sangat ricuh, bu Ihat yang sedari tadi menulis pun angkat bicara. “DENISH! SHILA! KELUAR!!!!” perintah bu Ihat.
Aku dan si anak baru itu pun keluar dari kelas yang membosankan itu. “gara-gara kamu! aku jadi dikeluarin dari kelas tau!” kataku marah-marah. “ya sory.. orang di kelas juga ngantuk kan? aku lihat kamu dari tadi nguap mulu” jawabnya santai. What?! jadi selama pelajaran dia merhatiin aku nguap gitu?. “hahaha.. kamu lucu ya kalo nguap” katanya tiba-tiba. “ga usah ngerayu!” jawabku dingin. Waktu terus berjalan, dan Denish tidak pernah berhenti menjailiku. ‘ni anak maunya apasih?’ tanyaku geram dalam hati.
Teeeeeeenggg.. Tooonngg.. akhirnya pulang juga. Hari ini benar-benar melelahkan, aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku mau.. tapi malu.. deerrtt, tanda sms masuk. Dan tahu apa isinya?

From : 085673546124
Malem Beni si sapi.... :p

what?! ga salah lagi, pasti si Denish. Darimana dia tahu nomer aku? jangan-jangan pas dia ngambil tas aku, dia ngambil handphone aku juga lagi?. Aku pun membalas SMSnya. Dan sejak saat itu, Denish sering ngeSMS aku. Dari sekedar nanya ‘lagi apa?’ sampe nanya ‘hal-hal pribadi’. Denish pun sering menceritakan tentang sahabat-sahabatnya, dan ternyata Denish sudah mengenal Citra dengan dekat. Katanya sih gara-gara rumah mereka bersebelahan. Kami berdua pun akhirnya menjadi teman dekat. Bahkan teman-temanku bilang ‘dimana ada Shila pasti ada Denish’, kami pun sering di panggil ‘DenShil’. Berantem? ga pernah kelewat! Meski kami sudah menjadi teman dekat, tapi kami sering berantem. Sampai akhirnya, aku pun jatuh cin....ta pada Denish. Sifatnya yang hangat dan penuh perhatian, walaupun jailnya minta ampuuun, tapi aku menyukai itu.
Hari Jumat, seperti biasa aku pergi ke Kumon. Ketika memasuki kelas, aku sama sekali tidak melihat Denish. Pelajaran pun telah dimulai, Denish masih belum datang juga. Jam 16.15, batang hidung Denish masih belum muncul juga. Aku mau.. tapi malu.. deerrtt. Telepon dari Denish “halo den..” titott.. baterai lemah. SIALAN! tadi pagi lupa ngecash lagi. Hari itu terasa sangat membosankan, Citra juga tidak dapat ikut les karena harus membantu mamanya. Akhirnya pulang juga. Aku pun segera pulang ke rumah.
Saat aku menaiki anak tangga yang ke-3 tiba-tiba Kriing Kringg, suara telepon rumah berbunyi. “halo, dengan siapa ya?” tanyaku singkat. “Shil.. ii..nii.. aku Citra!” jawabnya sambil terisak, sepertinya dia habis menangis. “kamu kenapa cit? si Henry selingkuh lagi?” tanyaku penasaran. “bbu..bu..kan shil.. bukan... bu..kaann..” katanya lagi sambil terisak. “lho? terus apa? kamu ngomongnya yang jelas dong cit!” kataku dengan nada agak sedikit tinggi. “Denish shil.. Dee..dee..nish..” dan akhirnya Citra benar-benar menangis. “WHAT?! DENISH?! Denish kenapa cit?” tanyaku kaget. “dii..diiaa..” suaranya melemah. “dia kenapa?” tanyaku ga sabaran. “dia kecelakaan shil, sekarang dia ada di rumah sakit cipto”. Deeeeegghh.. gagang telepon terjatuh, tubuhku seketika melemas. Aku pun berlari ke kamar mamah untuk meminta ijin menggunakan motor. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, aku pun melesat menuju rumah sakit cipto.
Tuuut.. tuutt.. suara klakson kubunyikan berulang-ulang kali, malam itu jalan raya benar-benar macet. Aku pun mencoba menerubus di antara sekian banyak mobil yang ada. Sampai akhirnya motorku menggores sebuah mobil “maaf pak maaf..” ucapku buru-buru dan langsung melesat kembali menuju rumah sakit cipto. Ku dengar bapak-bapak tadi memanggilku, tapi tak ku hiraukan. Di pikiranku hanya ada ‘DENISH’. Sepanjang jalan, jantungku berdegup kecang. “Akhirnya sampai juga di rumah sakit”. Aku langsung berlari ke bagian administrasi “maaf sus, kamarnya Denish Jonathan Sinduanatha dimana ya?” tanyaku dengan nafas terengah-engah. “oh.. di kamar Yusuf nomer 18” jawab suster. “makasih sus” kataku sambil berlari menuju kamar Yusuf nomer 18. Ku lihat Citra sedang menangis di koridor, “Citra!” sahutku. Citra pun langsung memelukku “Shil.. denish.. denish...” katanya sambil terisak. “iya.. denish dimana?” kataku buru-buru. “di dalem shil” katanya. Jantungku semakin berdebar kencang. Braaaak, “HAPPY BIRTHDAY SHILA.. HAPPY BIRTHDAY SHILA.. HAPPY BIRTHDAY.. HAPPY BIRTHDAY.. HAPPY BIRTHDAY SHILLA..” seru mereka. “ka.. ka..lian?? kamu?! DENISH???” ucapku dengan air mata mengalir di pipiku, kulihat semua teman-temanku berada disana. Dari mulai teman sekolah sampai teman les. Aku pun langsung berlari menuju Denish dan memeluknya erat-erat. “aku ga mau kehilangan kamu nish” kataku sambil terisak. “aku ga akan pernah ninggalin kamu shil” katanya sambil tertawa kecil. “aku cinta kamu!” katanya tiba-tiba. Deeeghh.. seperti petir yang menyambar pada tubuhku, aku pun langsung melepaskan pelukanku dan menatap Denish dalam. “kamu mau ga jadi pacar aku?” tanyanya lugu. “what? pacar? kamu bilang cinta setelah kamu bikin aku kaget setengah mati?” bruuk.. aku melempar sepatu ke arah muka Denish. “sini kamu! aku getok kepala kamu pake kereta!” kataku bercanda. “hahahha.. beni si sapi! beni si sapi!” aku dan Denish pun saling kejar-kejaran.


THE END

0 komentar:

Posting Komentar

 

The Sesame-Street♥ Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template